Senin, 19 September 2011

TINGKATKAN HASIL BAWANG MERAH DENGAN PEMBERIAN KOTORAN AYAM DAN PUPUK KCl PADA LAHAN KERING


TINGKATKAN HASIL BAWANG MERAH
DENGAN PEMBERIAN KOTORAN AYAM  DAN PUPUK KCl PADA LAHAN KERING

Oleh

ATANASIUS
Kata Kunci: Bawang Merah, Kotoran Ayam, Pupuk KCl


PENDAHULUAN

Bawang merah adalah bumbu yang praktis dan tidak ketinggalan dalam berbagai jenis masakan Indonesia. Bawang merah biasa dan sering digunakan sebagai obat tradisional untuk pelayanan kesehatan masyarakat, seperti obat nyeri perut karena masuk angin dan penyembuhan luka atau infeksi. Bawang merah juga dapat digunakan sebagai tindakan pencegahan terhadap kolera, penyakit kuning, memperkuat hati, membantu penyembuhan wasir, disentri dan diare dengan cara dimakan segera sesudah makan. Menurut Rukmana (2000:13) bawang merah berkasiat sebagai obat karena diduga mempunyai efek antiseptik dari senyawa alliin atau allisin. Senyawa alliin ataupun allisin oleh enzim allisin liase diubah menjadi asam piruvat, ammonia dan allisin anti mikroba yang bersifat bakterisida. Fungsi dalam tubuh antara lain adalah memperbaiki dan memudahkan pencernaan serta menghilangkan lendir-lendir dalam kerongkongan. Bawang merah mengandung vitamin B, dan C (Badan Pengendali Bimas, 1987:259).

ANALISIS PERMASALAHAN

Pemanfaatan lahan kering di Kabupaten Sintang yang belum obtimal, dapat memberikan peluang dan alternatif bagi petani untuk pengembangan bawang merah pada lahan kering dengan jenis tanah Podsolik Merah Kuning. Meskipun tanah PMK ini miskin akan unsur hara N, P, K dan Ca, namun dengan sistem pengelolaan dan teknologi, jenis tanah ini dapat menjadi lahan yang produktif dan potensial untuk pengembangan bawang merah. Salah satunya adalah dengan perlakuan pemberian pupuk, baik pupuk organik maupun pupuk anorganik. Pupuk organik yang dapat diberikan adalah kotoran ayam dan pupuk anorganik adalah pupuk KCl.
Penggunaan kotoran ayam dapat mensuplai bahan organik dan unsur hara dalam tanah, namun hara yang disediakan masih dalam jumlah sedikit. Oleh sebab itu untuk mencukupi ketersediaan unsur hara, maka unsur hara Kalium perlu ditambahkan, dengan memberikan bahan pupuk yang mengandung unsuk hara Kalium, yaitu antara lain pupuk KCl.



BOTANI BAWANG MERAH

Menurut Rahayu dan Berlian (1994:6) di dalam dunia tumbuhan, tanaman bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom                     : Plantae
Divisio                         : Spermatophyta
Klas                             : Monocotyledonae
Ordo                            : Liliales/Liliflorae
Famili                          : Liliaceae
Genus                          : Allium
Species                        : Allium ascalonicum L. atau
                    Allium cepa var. ascalonicum L.

Bawang merah merupakan tanaman semusim berbentuk rumput yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 15-50 cm dan berbentuk rumput (Rahayu dan Berlian, 1994:8). Rukmana (2000:15) menyatakan bahwa bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan bercabang terpencar pada kedalaman antara 15-30 cm didalam tanah. Bawang merah memiliki batang sejati yang bentuknya seperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekat perakaran dan mata tunas (titik tumbuh). Dibagian atas batang sejati terbentuk batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun. Batang semu yang berbeda di dalam tanah akan berubah bentuk dan fungsinya menjadi umbi lapis (bulbus).
Bentuk daun bawang merah seperti pipa, yakni bulat memanjang antara 50-70 cm, berlubang, bagian ujungnya meruncing, berwarna hijau muda sampai hijau tua, dan letak daun melekat pada tangkai yang ukurannya relatif pendek (Rukmana, 2000:17). Rahayu dan Berlian (1994:11) menyatakan bahwa bunga bawang merah termasuk bunga sempurna, terdiri dari 5-6 benang sari dan sebuah putik. Daun bunga berwarna agak hijau bergaris keputih-putihan atau putih. Bakal buah di atas membentuk bangunan setiga tampak jelas seperti kubah.

KOTORAN AYAM

Lingga (1990:58) pupuk kotoran ayam padat dan cair mengandung unsur N, P dan K yang cukup tinggi dibandingkan dengan pupuk kandang lainnya. Komposisi mineral dan kandungan air pupuk kotoran ayam saat cair adalah nitrogen 1,00%, Pospor 0,80%, Kalium 0,40% dan kandungan airnya 55%. Setyamidjaja (1986:30) menyatakan bahwa fungsi pupuk kandang terhadap tanah pertanian adalah (a) menambah kandungan bahan organik atau humus, (b) memperbaiki sifat fisik tanah, terutama struktur, daya mengikat air dan porositas tanah, (c) meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah unsur hara tanaman, (d) memperbaiki kehidupan mikro organisme tanah dan (e) melindungi tanah terhadap kerusakan erosi.
Pupuk kandang mempunyai beberapa sifat yang lebih baik dari pupuk alam lainnya maupun dari pupuk buatan. Sifat-sifat tersebut antara lain sebagai sumber hara nitrogen, fosfor dan kalium yang amat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menaikkan daya menahan air dan banyak mengandung mikroorganisme, karena itu pupuk kandang dianggap sebagai pupuk lengkap. Pupuk kandang berfungsi menyuburkan tanah dan membuat struktur tanah remah, sehingga akar tanaman bawang merah dapat dengan mudah menembus lapisan tanah serta mendorong pembentukan umbi menjadi besar.

PUPUK KALIUM CHLORIDA (KCl)

Setyamidjaja (1986:63) menjelaskan bahwa pupuk KCl mempunyai sifat berbentuk butir-butir halus berwarna putih atau putih bercampur butir-butir merah, sedikit higroskopis, reaksi fisiologisnya asam lemah. Menurut Nyakpa, dkk. (1988:175) bahwa pengaruh kalium terhadap produksi tanaman, terutama umbi-umbian adalah sangat nyata. Semakin tinggi kadar kalium tanah semakin tinggi kadar tepungnya. Nyakpa, dkk (1988:175-176) pengaruh kalium secara keseluruhan baik terhadap pertumbuhan maupun kwalitas hasil, akibat pengaruh proses-proses fisiologis.


TANAH PODSOLIK MERAH KUNING

Badan Pengendali Bimas (1987:159) menyatakan bahwa bawang merah dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang subur, banyak mengandung humus, tanah tidak tergenang air, aerase baik dan pH antara 5,6 – 6,5. Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman bawang merah adalah tanah lempung berpasir atau lempung berdebu. Jenis tanah ini mempunyai aerase dan draenase yang baik karena mempunyai perbandingan yang seimbang antara fraksi liat, pasir dan debu (Rahayu dan Berlian, 1994:30).
Bila pH kurang dari 5,5 pertumbuhan tanaman akan kerdil karena keracunan garam-garam Aluminium (Al). Sebaliknya pada pH di atas 6,5, garam Mangan (Mn) tidak dapat diserap tanaman, sehingga umbinya kecil-kecil dan hasilnya menjadi rendah. Hardjowigeno (1992:184) mengemukakan problema tanah Ultisol dan Oksisol (tanah-tanah Podsolik Merah Kuning) adalah reaksi tanah yang masam, kandungan Al yang tinggi, unsur hara rendah, sehingga diperlukan pengapuran dan pemupukan serta pengelolaan yang baik agar tanah menjadi produktif dan tidak rusak.


PEMBAHASAN

Kotoran ayam dan pupuk KCl dapat diserap oleh akar tanaman bawang merah secara optimal.  Thom Wignyanta (1974:7) menjelaskan bahwa untuk memperoleh hasil panen yang tinggi dibutuhkan pupuk, karena pupuk melengkapi tanaman dengan zat makanan yang tidak terdapat di dalam tanah. Jika salah satu unsur hara yang dibutuhkan kurang, maka pertumbuhan tanaman akan merana dan hasil panen pun berkurang. Pupuk kandang mampu memperbaiki struktur tanah menjadi lebih baik dan gembur,  sehingga akar tanaman bawang merah dapat dengan leluasa menyerap semua unsur hara yang terdapat di dalam tanah.  Kelebihan dari pupuk organik adalah (Marsono dan Sigit, 2002:26) mengubah struktur tanah menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan akar tanaman akan lebih baik, meningkatkan daya serap dan daya tahan tanah terhadap air sehingga tersedia bagi tanaman serta memperbaiki kehidupan organisme tanah.
Marsono dan Sigit (2002:29) juga menjelaskan bahwa pupuk kandang membantu menetralkan pH tanah, mempertinggi porositas tanah dan secara langsung meningkatkan ketersediaan air tanah dan membantu penyerapan hara dari pupuk kimia yang ditambahkan. Tanah PMK tidak subur, pH rendah, daya menahan air kurang, sehingga dibutuhkan pemberian pupuk organik yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pada tanah yang kurang unsur hara dan strukturnya padat, dibutuhkan pupuk kotoran ternak dalam jumlah cukup besar antara 20.000 – 30.000 kg/ha.
Unsur hara K2O sangat diperlukan oleh tanaman yang menghasilkan umbi,  Marjanin dan Hadmadi (1980:113) menjelaskan bahwa unsur K2O berfungsi meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil tanaman berupa umbi termasuk tanaman bawang merah. Kalium adalah unsur yang mengatur fungsi tanaman, meningkatkan daya kerja Nitrogen (Suhardi, 1983:163), karena Kalium ikut membentuk protein dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit. Lingga dan Marsono (2003:8) menjelaskan bahwa fungsi utama Kalium adalah membantu pembentukkan protein dan karbohidrat. Kalium juga berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur.
Tanah yang telah diberi pupuk yang tepat (Thom Wignyanta, 1974:34), menyediakan hara sesuai dengan kebutuhan tanaman, dalam perbandingan dan jumlah yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil yang terbaik. Keadaan demikian persediaan zat hara dinamakan seimbang. Jika salah satu unsur hara kurang, dapat mengurangi hasil panen. Selain hasil panen kurang maksimal, persediaan zat hara yang tidak berimbang dapat menimbulkan kepekaan terhadap penyakit mudah rebah atau panen terlambat.
Pupuk kotoran ayam mengandung unsur hara makro dan mikro dalam jumlah yang cukup dan berimbang, sehingga dapat diserap tanaman bawang merah dengan optimal. Apabila suatu unsur tidak dapat disediakan oleh tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman, maka tanaman akan kekurangan unsur tersebut. Jumlah masing-masing pupuk yang harus diberikan tidak sama (Balai Informasi Pertanian Ungaran Jawa Tengah, 1988:26-29), ini tergantung pada jumlah hara yang tersedia di dalam tanah dengan yang dibutuhkan tanaman. Jika satu unsur hara diberikan dalam jumlah banyak, maka unsur hara tersebut dapat menyebabkan unsur hara lain tidak dapat disediakan tanah dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.
Unsur hara N, P dan K yang terdapat dalam kotoran ayam diperoleh dari hasil bahan makanan yang dimakan oleh ternak ayam tersebut. Lingga dan Marsono (2003:60) mengatakan bahwa unsur hara yang terkandung dalam kotoran ternak berbeda-beda, tergantung dari jenis makanan yang diberikan pada ternak. Jika makanan yang diberikan kaya hara N, P dan K maka kotorannya pun kaya akan unsur hara tersebut. Kalium berperan untuk memperlancar fotosintesis, membantu pembentukan protein dan karbohidrat, sebagai katalisator dalam transformasi tepung, gula dan lemak tanaman, meningkatkan resistensi tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit  serta kekeringan (Setyamidjaja, 1986:16).  Pupuk kandang berfungsi menyuburkan tanah dan pupuk KCl berfungsi membesarkan dan memperkuat umbi bawang merah.
PENUTUP

Kotoran ayam dan pupuk KCl memberikan manfaat yang sangat besar pada pertumbuhan, perkembangan dan hasil tanaman bawang merah. Hal ini disebabkan karena kotoran ayam mampu memperbaiki struktur tanah menjadi lebih baik dan gembur, membantu menetralkan pH tanah, mempertinggi porositas tanah dan secara langsung meningkatkan ketersediaan air tanah dan membantu penyerapan hara dari pupuk kimia yang diberikan.
Pupuk KCl mengandung unsur hara Kalium, sangat diperlukan oleh tanaman yang menghasilkan umbi, karena Kalium ikut membentuk protein, karbohidrat dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit.

BAHAN BACAAN

Badan Pengendali Bimas. 1983. Pedoman Bercocok Tanam Padi, Palawija dan Sayur-Sayuran. Jakarta: Departemen Pertanian Repoblik Indonesia.

Balai Informasi Pertanian. 1988. Pemupukan Berimbang. Ungaran: Balai Informasi Pertanian Jawa Tengah.

Hadmadi dan Marjanin, M. 1980. Botani. Jakarta: CV. Yasaguna.

Hardjowigeno. 1992. Ilmu Tanah. Jakarta: PT. Medyatama Sarana Perkasa.

Indranada, H. K. 1989. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Jakarta: PT. Bina Aksara.
Lingga, P. 1990. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.

Lingga dan Marsono. 2003. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.

Marsono dan Sigit, P. 2002. Pupuk Akar Jenis dan Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya.

Nyakpa, M. Y., Lubis, A. M., Pulung., Amrah, A.G., Munawar, A., Hong, G.B., dan Hakim, M. 1988. Kesuburan Tanah. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Rahayu, E. dan Berlian, N. 1994. Bawang Merah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Rukmana, R. 2000. Bawang Merah Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius.

Setyamidjaja,D. 1986. Pupuk dan Pemupukan. Jakarta: CV. Simpleks.


Suhardi. 1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Yogyakarta: Kanisius.

Suseno, S. 1978. Kebun Sayur Di Pekarangan Anda. Jakarta: PT. Kinta.

Thom Wignyanta. 1974. Pupuk Buatan Dan Cara Memakainya. Ende-Flores: Nusa Indah


Kamis, 15 September 2011

Gambas


Gambas atau Oyong (Luffa acutangula, suku labu-labuan atau Cucurbitaceae), adalah komoditi sayuran minor. Penanamannya biasanya dilakukan di pekarangan atau bagian ladang yang tidak digunakan untuk tanaman lain. Gambas dipanen buahnya ketika masih muda dan diolah sebagai sayur.

Labu Kuning

Masih Muda

Sabtu, 03 September 2011

Membuat Mikro Organisme Lokal (MOL)


MEMBUAT MIKRO ORGANISME LOKAL
(MOL)



Oleh: 

ATANASIUS

Penyuluh Pertanian Kab. Sintang


I.       APA ITU MOL?

MOL adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal  yang dapat dibuat dari berbagai macam bahan yang terdapat disekitar petani, diantaranya Bonggol Pisang, Rebung Bambu, Keong Mas, sisa buah-buahan dan sayuran yang tidak dikonsumsi lagi.

MENGAPA MEMBUAT MOL?

  1. Menggunakan bahan-bahan local alami yang mudah didapat dan ada disekitar tempat tinggal petani.
  2. Tidak mengandung bahan-bahan kimia yang dapat merusak lingkungan, yang membahayakan manusia  dan makhluk hidup yang ada disekitarnya.
  3. Kelestarian hutan, tanah dan air tetap terjaga, karena dilaksanakan secara arif dan bijaksana dengan pemanfaatan sumber daya alam lokal yang ada disekitar petani.
  4. Sifat fisik, kimia dan biologi tanah tetap terjaga, karena dengan pemberian MOL, bahan organic tanah terus ditambahkan.
  5. Tanah menjadi subur dan gembur karena kaya akan mikroorganisme dan bahan organic yang sangat dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang.
  6. Mengurangi penggunaan pupuk kimia maupun pestisida kimia yang tidak mudah didapat petani tepat pada waktunya.
  7. Mengandung unsure Nitrogen yang berguna untuk merangsang pertumbuhan batang, cabang dan daun serta berperan penting dalam pembentukan klorofil untuk proses fotosintesis.

II.    TUJUAN PELAKSANAAN PEMBUATAN MOL BONGGOL PISANG

Setelah pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan petani dapat:
  1. Membuat MOL dari Bonggol Pisang.
  2. Memanfaatkan limbah air beras dan air kelapa maupun Bonggol Pisang untuk bahan pupuk organic.
  3. Memberikan takaran MOL Bonggol Pisang dan frekuensi pemupukan yang cukup pada tanaman.

Kegiatan Kelompok Tani dalam Membuat MOL Bonggol Pisang

III.  ALAT DAN BAHAN

a.       Alat:
-          Ember volume 8 liter air                     : 4 buah
-          Stoples bertutup volume 20 liter air    : 4 buah
-          Slang plastic diameter 1 cm                : 3 meter
-          Botol aqua bekas                               : 4 buah
-          Lesung dan alu masing-masing            : 1 buah
-          Sendok kayu panjang                         : 1 buah
-          Lakban                                               : 1 rol

b.      Bahan:
-          BONGGOL PISANG                        : 15 kg
-          Air beras                                             : 30 liter
-          Air kelapa                                           : 15 liter
-          Gula pasir                                            : 3 kg
-          Gula merah                                          : 1,5 kg
-          Gula pasir dan gula merah
diaduk dalam air                                 : 4,5 liter

1.      Cara Pembuatan:
-          Siapkan semua alat dan bahan yang akan dipergunakan
-          Bonggol Pisang ditumbuk dalam lesung dengan alu
-          Masukan Bonggol Pisang yang sudah ditumbuk kedalam stoples
-          Masukan air cucian beras, air kelapa dan air gula sesuai dengan campuran yang telah ditetapkan di atas dan di aduk
-          Tutup stoples dan dilakban, beri lubang pada tutup stoples lalu masukan slang plastic yang dihubungkan dengan botol aqua bekas yang telah diisi air.
-          Simpan ditempat teduh dan biarkan selama 10 – 15 hari.

2.      Cara Penggunaan:
a.       Untuk Pengomposan:
-          Campurkan MOL Bonggol Pisang dengan air dengan perbandingan 1 bagian MOL dengan 5 bagian air (1 : 5).
-          Siramkan pada bahan organic yang akan dikomposkan.

b.      Untuk Tanaman:
-          Semprotkan sebagai pupuk cair dengan perbandingan 400 cc MOL dicampur dengan air 14 liter (400 : 14)
-          Untuk tanaman padi semprotkan 10, 20, 30, 40 hst
-          Lakukan penyemprotan pada pagi hari,  pukul 08.00 – 10.00


IV. PENUTUP

1.      Petani dapat melaksanakan pembuatan MOL dengan seksama dan tertib.
2.      Petani akan memanfaatkan semua potensi sumber daya alam yang terdapat disekitarnya untuk pembuatan MOL guna menambah bahan organic tanah
3.   Petani akan memanfaatkan MOL Bonggol Pisang sebagai penggati pupuk urea yang mengandung unsure nitrogen.
4.    Semua bahan cukup tersedia, sehingga memungkinkan untuk terus melakukan pembuatan MOL Bonggol Pisang.